Showing posts with label Persiapan ke Jerman. Show all posts
Showing posts with label Persiapan ke Jerman. Show all posts

Friday, January 23, 2015

Packing ke Jerman: Checklist Barang Bawaan

Kebanyakan calon pelajar yang akan berangkat ke Jerman biasanya memiliki masalah dengan packing. Problem terbesar adalah: bagaimana saya membawa perlengkapan untuk hidup selama 2 atau 3 tahun dalam 1 bagasi 30 kg, 1 koper Hand-Carry, dan 1 Ransel? 

Pengalaman saya dulu pada saat pertama kali akan berangkat ke Jerman adalah saya selalu merasa perlu membawa ini itu karena takut di Jerman tidak ada atau jika ada harganya akan mahal. Padahal, setelah saya tiba di Jerman, barang ini sebenarnya bisa dibeli dengan harga yang cukup reasonable. 

Di post saya kali ini, saya akan mencoba menulis beberapa tips untuk packing ke Jerman, khususnya barang bawaan kamu. Perlu diingat, kebutuhan setiap orang berbeda-beda jadi tentunya tidak bisa sama persis barang bawaan yang saya perlukan dan yang kalian perlukan. Silakan dipertimbangkan sendiri apakah pada akhirnya barang-barang ini perlu kamu bawa :)

Pertama-tama, mari kita klasifikasikan barang-barang bawaan kamu menjadi 3 jenis: WAJIB DIBAWA, BISA DIBAWA/TIDAK, TIDAK PERLU DIBAWA

WAJIB DIBAWA

1. Pakaian

Bawa seperlunya saja, jika kurang kamu bisa beli baju-baju murah di H&M, Pimkie, C&A, dll. Percaya deh, apalagi jika kamu cewek seperti saya, pasti tidak bisa menahan godaan untuk membeli baju-baju murah pada saat masa Schlussverkauf. Saya sendiri dulu membawa sekitar 15-20 potong kaos. Universitas di Jerman sendiri tidak menetapkan dress code tertentu untuk kuliah, maka kamu tidak perlu sedia kemeja berkerah atau sebagainya. Tapi saya sarankan untuk memiliki minimal 1-2 potong kemeja formal dan 1 blazer untuk event-event formal seperti field trip ke perusahaan, kunjungan ke pameran, interview kerja, presentasi skripsi, dll. Saya membawa agak banyak celana jeans, sekitar 4 buah, karena celana ini sangat fleksibel, bisa digunakan di berbagai musim dan tidak gampang kotor. Untuk rok, waktu itu saya bawa 1 rok hitam dan 1 dress untuk jaga-jaga jika ada event formal. Karena saya setiap hari pasti menggunakan boots atau sneakers, maka saya bawa sekitar 10 pasang kaos kaki.

2. Obat

Sangat saya sarankan untuk membawa obat dari Indonesia karena bagi saya pribadi, ada beberapa obat-obat yang dimana saya lebih cocok menggunakan obat dari Indonesia, misal:
  • Obat Batuk. Saya sendiri kurang cocok dengan obat batuk Jerman (khususnya sirup) yang berasa manis / asam yang mengandung semacam tanaman herbal (Kräuter, kurang tahu juga jelasnya) karena terbiasa dengan obat batuk dari Indonesia yang memberikan efek sejuk di tenggorokan yang bisa membuat saya berhenti batuk. 
  • Obat Pilek. Di Jerman sangat jarang obat pilek berbentuk tablet atau pil, kebanyakan dari obat pilek yang dijual di supermarket / apotik berupa nasal spray dimana harus disedot oleh hidung
  • Obat Datang Bulan. Sampai sekarang saya sendiri belum menemukan obat untuk mengatasi sakit saat datang bulan disini. 
  • Minyak Kayu Putih. Berguna untuk mengatasi mual dan belum saya temukan versi Jermannya. 
  • Tolak Angin. Menurut saya ini WAJIB dibawa karena sangat-sangat berguna. Bisa dipakai jika kamu tidak enak badan, masuk angin, apalagi pada musim dingin dimana angin biasanya kencang. 
  • Obat Maag. Karena saya cukup sering sakit maag maka ini wajib untuk saya bawa. 

3. Peralatan Mandi

Penting untuk hari-hari pertama di Jerman dimana kamu mungkin masih mencari Wohnung atau jika kamu tiba pada hari libur dimana toko-toko tutup. Cukup 1 sikat dan pasta gigi, shampoo dan sabun kecil. Selebihnya bisa kamu beli di toko dm (beberapa house mark mereka bahkan harganya lebih murah daripada harga peralatan mandi di Indonesia)

4. Kosmetik

Misal obat jerawat, pembersih muka, pelembab, obat dokter, dll. Penting untuk dibawa sambil mencoba beradaptasi dengan memilih produk-produk serupa yang pas bagi kamu, jika merek barang-barang kamu tidak ada di Jerman. Khususnya obat jerawat, jika kamu memiliki masalah dengan jerawat, ini penting untuk dibawa karena selama ini saya sangat jarang (hampir tidak pernah) melihat produk-produk untuk mengatasi jerawat.

5. Sepatu dan Sandal

Untuk persediaan saya membawa 1 pasang sepatu boots. Selain itu saya juga bawa 2 pasang sneakers untuk dipakai sehari-hari. Dari pengalaman saya, sneakers ini masih tahan kok dipakai saat winter, jika suhu masih diatas 0. Selain itu sandal jepit juga sangat penting, bisa dipakai di rumah, saat traveling di hostel, juga saat summer.

6. Dokumen

Saya sarankan untuk membawa beberapa lembar legalisir dokumen beserta terjemahannya serta dokumennya yang asli. Dokumen ini penting untuk keperluan birokrasi di Jerman seperti lapor diri di KJRI, perpanjangan visa, Bewerbung universitas atau kerja, dll. Selain itu jangan lupa juga untuk membawa cadangan pas foto biometris. Saya sendiri membawa sekitar 20 lembar pas foto untuk berjaga-jaga jika diperlukan karena jasa untuk membuat pasfoto disini cukup mahal.

BISA DIBAWA/TIDAK

1. Jaket dan Barang-Barang Winter

Seperti calon student yang berangkat untuk masuk saat Wintersemester, saya juga takut persediaan barang winter saya kurang atau kurang tebal, khususnya jaket. Dalam pikiran saya membeli jaket disana pastinya mahal. Tapi setelah sampai disini ternyata saya menemukan jaket-jaket yang dijual disini jauh lebih murah ketimbang misal kalau kita beli jaket-jaket merek Korea atau Cina yang dijual di Indonesia. Kualitasnya juga lebih baik dan lebih banyak pilihan modelnya. Untuk berjaga-jaga silakan bawa 1 buah jaket, sisanya bisa kamu beli saat sampai disini, karena jaket termasuk yang paling memakan ruang di bagasi. Jika kamu bisa menahan diri dan tidak terlalu dringend butuh, tunggu sampai masa Winterschlussverkauf yang biasanya mulai berlangsung setelah natal dan tahun baru, sekitar pertengahan Januari hingga pertengahan Februari. Pada masa ini barang-barang winter seperti jaket, sarung tangan, topi, long john, dll. akan didiskon besar-besaran karena toko-toko harus cuci gudang untuk menyiapkan tempat bagi barang-barang musim yang baru. Saya seringkali menemukan jaket bermerek misal Zara/Esprit dengan harga setara dengan H&M jika diskon.
Untuk tipe jaket, saya sarankan membeli jaket outdoor yang sangat fungsional dan bisa dipakai di segala medan. Biasanya jaket ini windproof dan wasserdicht dan hangat karena memiliki layer fleece di dalamnya.

Barang-barang winter lainnya seperti topi, sarung tangan, syal, dll juga bisa kamu beli dengan harga murah di H&M atau C&A.

2. Rice Cooker

Saya sendiri dulu membawa rice cooker mini ukuran 0,3 L karena memang tidak perlu rice cooker terlalu besar untuk makan 1 orang. Tapi disini kamu juga bisa membeli rice cooker secara online di Amazon, harganya tidak terlalu mahal, mulai dari €15 (tergantung merek).

3. Setrika, Hair Dryer

Barang-barang listrik seperti setrika dan hair dryer juga bisa kamu beli di Rossmann dengan harga sekitar €10 hingga €15.

4. Peralatan Makan

Untuk hari-hari pertama di Jerman maka mungkin bisa membawa 1 set alat makan (sendok, garpu). Piring, gelas, mangkok dll bisa kamu beli dengan harga €1 setiap bijinya di 1-Euro-Shop. Di Primark juga banyak dijual botol minum lucu-lucu seharga sekitar €3.

5. Bumbu Masak dan Sambal

Jika kamu seperti saya, tidak bisa masak, maka barang ini sangat berguna sekali. Saya dulu bawa bumbu-bumbu masakan seperti rawon, sapi lada hitam, nasi goreng, dll di supermarket. Tinggal beli daging mentah di supermarket, daging dimasak, dicampur dengan bumbu, maka makanan pun jadi, bisa dibuat untuk beberapa kali makan. Jika kamu kehabisan, bisa juga beli di toko Asia, biasanya mereka menyediakan bumbu-bumbu seperti ini, walaupun bukan merek Indonesia.

Untuk sambal, semua toko Asia di München yang pernah saya kunjungi menjual sambal ABC, jadi saya rasa jika kamu akan tinggal di kota besar di Jerman dimana akan banyak toko Asia maka tidak perlu khawatir masalah sambal. Tapi karena saya sendiri lebih suka sambal merek lain selain ABC yang tidak dijual di toko Asia disini, maka saya membawa sekitar 2 bungkus sambal sachet.

6. Indomie

For some reason setelah tinggal di Jerman keinginan untuk makan Indomie meningkat, padahal di Indonesia sendiri saya hampir tidak pernah makan Indomie. Saran saya sih bawa sedikit saja jika masih ada tempat, mungkin untuk mengobati rasa kangen rumah di hari-hari pertama di Jerman. Selebihnya bisa beli di toko Asia, Indomie (dengan merek Indomie) juga dijual kok disana, dalam berbagai macam rasa dan varian.

7. Laptop

Ini tergantung orang masing-masing. Saya sendiri membawa laptop saya dari Indonesia, tapi ada beberapa teman yang memilih membeli laptop di Jerman. Jika bingung apa mending beli laptop di Indonesia atau di Jerman, bisa coba bandingkan terlebih dulu harganya. Website yang direkomendasi teman-teman untuk membeli laptop adalah http://www.notebooksbilliger.de/

TIDAK PERLU DIBAWA

1. Binder dan Loose Leaf

Saya cukup menyesal juga membawa binder dan loose leaf ini, karena di Jerman hampir tidak pernah dipakai. Hampir semua pelajar menggunakan college block (semacam buku tulis berukuran A4 dengan jilid ring yang sudah memiliki lubang untuk dimasukan ke map) untuk mencatat pelajaran. Setiap lembar college block ini bisa dirobek dan lembarannya dimasukan di Ordner / map. Menurut saya lebih praktis karena kita tidak perlu membeli buku tulis berbeda-beda untuk setiap mata pelajaran.

2. Sprei

Khususnya karena ukuran bantal dan bed di Jerman biasanya berbeda dengan ukuran di Indonesia, jadi menurut saya lebih baik beli di Jerman. Perlu diperhatikan dalam memberi sprei disini adalah istilahnya. "Bettwäsche" biasanya adalah 1 set yang terdiri dari sarung untuk selimut (semacam bed cover) dan 1 sarung bantal besar yang biasa berukuran 80 cm x 80 cm. Sedangkan sprei yang digunakan untuk kasur bernama "Spannbettuch" atau "Spannbettlaken" yang kebanyakan berasal dari bahan Jersey yang hangat. Bettwäsche set biasa dijual dengan harga mulai €10 hingga €20 di Ikea sedangkan Spannbettlaken sekitar €7


Obviously list ini memang tidak lengkap karena untuk list selengkapnya barang-barang apa yang harus kamu bawa tergantung dari kebutuhan pribadi masing-masing. Bisa jadi kamu tidak memerlukan baju sebanyak saya, atau memerlukan obat-obat lainnya untuk alergi, dsb. Semoga checklist ini bisa membantu kamu yang sedang bingung memikirkan barang bawaan. Happy packing!

Thursday, August 28, 2014

Terbang ke Jerman (dari Indonesia)

Mengingat jauhnya jarak Indonesia-Jerman tentu satu-satunya metode untuk berangkat ke negara tujuan kuliah kita ini adalah dengan pesawat. Setelah beberapa kali terbang pulang-pergi Jerman-Indonesia ada beberapa info yang bisa saya tulis.

1. Waktu Pembelian Tiket
Salah satu faktor penting bagi kita yang akan terbang pertama kali ke Jerman. Apakah membeli tiket pesawat sebelum atau sesudah mendapat visa? Jawabannya, tergantung! Jika kamu:
  • Membeli tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum mendapat visa: maka keuntungannya adalah harga tiket yang dibeli tentunya lebih murah, tapi resikonya adalah pada saat hari H keberangkatan visa belum ada atau visa ditolak. Jadi, pintar-pintarlah menentukan tanggal keberangkatan dan jarak tanggal keberangkatan dengan proses pengajuan visa.
  • Membeli tiket pesawat setelah mendapat visa: opsi yang lebih aman, dengan resiko harga yang tidak bersahabat, apalagi calon mahasiswa biasanya berangkat ke Jerman pada bulan Agustus / September / Oktober (high season).
2. Memilih Maskapai Penerbangan
Ini juga tak kalah penting, karena kita akan menghabiskan waktu sekitar 12 jam di pesawat dan beberapa jam untuk transit. Sejauh pengalaman saya, maskapai penerbangan yang paling diminati adalah maskapai-maskapai penerbangan dari Timur Tengah, karena mereka menawarkan harga yang murah dengan kualitas bintang 5, antara lain Qatar Airways, Etihad, dan Emirates. Dari ketiga maskapai tersebut, saya sendiri lebih prefer Emirates, karena fasilitasnya yang nyaman, makanan yang enak, dan ada fasilitas Rail + Fly (link) dimana dengan membeli tiket pesawat Emirates kamu juga mendapatkan fasilitas untuk naik kereta (termasuk ICE) secara gratis dari tempat kamu ke kota airport tujuan. Untuk harganya, Emirates memang biasanya sedikit lebih mahal (beda sekitar 20-30 Euro) tapi ini juga tidak mutlak, tergantung dengan jam terbang dan tanggal terbang. Selain 3 maskapai diatas, masih banyak lagi airline yang bisa kamu gunakan, seperti KLM, Korean Air, Singapore Airlines, dll. (Bisa dicek di website airline tersebut apakah mereka melayani rute yang kamu inginkan)

3. Memilih Tempat Mendarat
Tidak semua kota di Jerman memiliki bandara. Jikalau ada, tidak semua melayani pesawat terbang jarak-jauh. Hampir semua pesawat jarak jauh akan mendarat di 4 bandara besar di Jerman:
  • Berlin (Tegel Airport)
  • München (Franz Joseph Strauß Airport)
  • Frankfurt (Rhein-Main Internationaler Flughafen)
  • Düsseldorf (Düsseldorf Flughafen)
  • Hamburg (Hamburg Flughafen)
Silakan lihat peta Jerman untuk mengecek, kota tempat tinggal kamu lebih dekat dengan kota mana.

4. Mendapatkan Tiket Murah
Untuk mendapatkan tiket murah, usahakan untuk terbang di masa low season (Januari-Maret, Mei, Juni, November). Kamu bisa mengecek dan membandingkan harga-harga tiket pesawat di skyscanner.com

5. Tiket Student
Bagi pemilik visa student ke Jerman, kebanyakan maskapai penerbangan menawarkan tiket student. Tiket ini biasanya lebih murah dan sebagai student kamu mendapat tambahan bagasi, jadi total bagasi yang diperbolehkan mencapai 40 kg (dari yang biasanya 23-30kg). Namun untuk membeli tiket student kamu harus melakukan reservasi secara langsung, baik dengan telpon atau mendatangi kantor maskapai tersebut, tidak bisa membeli secara online. Caranya:
  1. Cari tahu nomor telpon / alamat kantor ticketing maskapai penerbangan yang dituju
  2. Hubungi bagian reservasi
  3. Tanyakan apakah bisa reservasi student ticket
  4. Bayar biaya tiket dan kirimkan fotokopi / scan visa student kamu
  5. Tiket biasanya akan dikirim lewat fax / email
6. Memilih Jam Terbang
Sejauh pengalaman saya terbang dengan Qatar Airways, Emirates, dan Etihad, ketiga maskapai penerbangan ini menawarkan 2 jam keberangkatan setiap harinya, yaitu pagi/siang dan sore/subuh. Karena saya sendiri tidak tinggal di Jakarta, maka dalam membeli tiket pesawat juga harus saya perkirakan waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari kota asal saya ke Jakarta, kemudian check in lagi ke penerbangan ke Jerman. 
  • Jam terbang pagi/siang hari (dari Jakarta): akan sampai di Jerman pada malam hari. Jadi dari pengalaman saya, maka saya harus terbang pada hari sebelumnya, menginap 1 hari di Jakarta, pagi berangkat ke airport, dan sampai sekitar pukul 10 malam. Biasa harga tiket lebih murah, tapi tidak disarankan bagi yang baru pertama kali berangkat ke Jerman karena transportasi penghubung di Jerman lebih jarang di malam hari (misal, jika harus pindah kota).
  • Jam terbang sore/subuh: akan sampai di Jerman pada siang hari. Jadi saya berangkat dari kota saya pada hari H pagi dengan Garuda Indonesia (agar tidak perlu pindah terminal, karena dengan maskapai lainnya kamu harus pindah dari Terminal 1 / 3 Soekarno Hatta ke Terminal 2 tempat keberangkatan internasional), check in lagi ke tempat check in penerbangan internasional. Sesampainya di Jerman, kamu bisa langsung naik kereta / bus ke kota tujuan, jadi tidak perlu menginap ekstra 1 hari lagi.
Tips: untuk menghindari antrian yang panjang saat check in, jangan lupa untuk terlebih dulu melakukan web check-in paling awal 24 jam sebelum terbang dan print boarding pass. Jadi saat tiba di bandara kamu cukup datang ke counter BAGGAGE DROP, tanpa perlu mengantri untuk check in (antrian di baggage drop biasanya lebih sedikit). Dengan web check-in kamu juga bisa memilih tempat duduk kamu.

Tuesday, September 10, 2013

Setelah Mendapat Zulassung: Persiapan untuk Immatrikulation

Hari yang ditunggu ternyata sudah tiba, akhirnya kamu mendapat Zulassung (surat penerimaan) dari universitas yang dituju. Tapi tunggu dulu, Zulassung ini bukan berarti kamu bisa langsung belajar di universitas tersebut. Kamu harus memenuhi beberapa syarat-syarat yang diminta untuk bisa melakukan Immatrikulation (daftar ulang) untuk benar-benar terdaftar di universitas tersebut.

Jika jurusan kamu zulassungsfrei:
Ini berarti kamu tinggal datang pada tanggal yang ditentukan (tanggal Immatrikulation tertera di Zulassung) untuk melakukan Immatrikulation. Biasanya bersamaan dengan Zulassung akan ditulis juga apa saja yang harus dibawa pada saat Immatrikulation.

Jika jurusan kamu zulassungsbeschränkt (ada NC):
Biasanya dikarenakan jumlah Studienplatz yang terbatas maka kamu diminta untuk memberikan kabar kepada pihak universitas secepatnya, apakah kamu jadi mengambil tempat ini atau tidak. Bersamaan dengan Zulassung biasanya akan dikirimkan juga Annahmeerklärung, semacam dokumen yang menyatakan bahwa kamu menerima Studienplatz ini. Jika kamu masih kurang yakin ingin mengambil tempat di universitas tersebut dan masih menunggu Zulassung dari universitas lain, saran saya tetap ambil saja Studienplatz yang telah ditawarkan, karena sebelum kamu melakukan Immatrikulation biasanya masih bisa kamu tolak lagi. Saya sendiri sebelum mendapatkan Zulassung dari TUM terlebih dulu mengambil Studienplatz dari Uni Bonn, dan setelah saya mendapatkan Zulassung dari TUM saya kembali mengabarkan bahwa saya harus kembali menolak Studienplatz tersebut karena sudah melakukan Immatrikulation di universitas lain.

Setelah kamu mendapatkan Zulassung, ada beberapa hal yang harus kamu penuhi untuk bisa melakukan Immatrikulation (daftar ulang), yaitu:
  • Membayar Studienbeitrag.
    Untuk masalah Studienbeitrag, saya sarankan untuk mentransfer biaya ini dari Indonesia, jika kamu tidak ada kenalan yang bisa diminta tolong untuk mentransfer dari rekening Jerman, karena aktivasi rekening di Deutsche Bank sendiri (setelah nanti kamu sampai di Jerman) butuh beberapa minggu sehingga lebih baik melakukan transfer ini dari Indonesia untuk menghindari kerepotan masalah transfer biaya.
  • Menyelesaikan masalah asuransi.
    Asuransi yang dimaksud adalah asuransi pemerintah di Jerman (gesetzliche Krankenversicherung) bukan asuransi swasta. Biaya asuransi pemerintah di Jerman sama untuk semua perusahaan asuransi pemerintah, yaitu sekitar 79 Euro per bulan untuk mahasiswa. Beberapa perusahaan asuransi pemerintah di Jerman antara lain AOK, TK, Barmer GEK, DAK, dll. Kebanyakan mahasiswa disini memakai TK atau AOK. Untuk mendaftar asuransi, kamu harus punya alamat di Jerman. Alamat ini bisa kamu tuliskan alamat teman kamu yang telah tinggal di Jerman jika kamu belum punya tempat tinggal disini. Nanti kartu asuransi akan diantarkan ke alamat tersebut. Untuk mendaftar asuransi mahasiwa, cukup tuliskan email kepada pihak asuransi yang kamu tuju, biasanya mereka akan mengirimkan sebuah formulir pendaftaran yang bisa kamu isi. Formulir ini tinggal kamu isi, tanda tangan, kemudian kirimkan juga bukti Zulassung (surat penerimaan) kamu dari universitas serta fotokopi Paspor kamu. Semua dokumen ini dikirimkan kembali lewat email ke kontak kamu tersebut, dan beberapa waktu kemudian kamu akan mendapatkan dokumen tentang Versicherungsbescheinigung yang intinya mengatakan bahwa kamu telah terasuransi di perusahaan tersebut. Bukti ini kamu print dan serahkan kepada universitas kamu untuk bisa melakukan Immatrikulasi.
Di TUM sendiri proses Immatrikulasi dilakukan secara online di account TUM kamu, jadi setelah kamu menyelesaikan 2 syarat diatas, maka kamu akan otomatis langsung terimmatrikulasi dan bisa mendownload beberapa dokumen-dokumen seperti Immatrikulationsbescheinigung, dll. Selain itu kamu juga sudah bisa mengambil Student Card (Studentenausweis) kamu setelah nanti sampai di Jerman.

Friday, July 26, 2013

What to do after Visa Application: Proses Menunggu Visa sampai Keluar

Pada post beberapa waktu lalu (klik di sini) saya telah menuliskan prosedur pembuatan visa. Nah setelah kita mengajukan visa, maka kita masuk ke fase yang menurut saya paling nggak enak, menunggu visa keluar.

Berapa lama proses pengerjaan visa?
Proses pengerjaan visa sendiri sangat berbeda-beda. Ada beberapa teman saya yang mendapat visa hanya dalam waktu 2 minggu atau 3 minggu. Saya sendiri memerlukan waktu 5 minggu untuk mendapatkan visa, padahal saya dan teman-teman sama-sama mengajukan ke kota yang sama, Hannover.

Karena merasa was-was dengan visa yang tidak kunjung keluar, maka saya pun menelepon kedutaan menanyakan status visa saya. Sayangnya jawaban kedutaan kurang memuaskan. Saya hanya disuru menunggu telefon. Pada saat itu saya agak takut ditolak, karena memang proses aplikasi saya agak 'beda'. Oleh petugas loket visa ijazah SMA saya beserta terjemahannya dikembalikan karena menurut petugas tersebut cukup memakai ijazah Studienkolleg dan Zulassung dari Uni Hannover, sementara hampir semua teman saya yang mengajukan visa memerlukan ijazah SMA. 

Apa yang bisa dilakukan jika visa tak kunjung keluar?
Karena penasaran kenapa visa saya membutuhkan waktu yang cukup lama (dibandingkan teman-teman yang lain yang hanya membutuhkan 2-3 minggu) maka saya pun memutuskan untuk mengontak pihak Ausländerbehörde (ABH) Hannover. ABH ini yang memutuskan apakah visa kamu disetujui atau tidak. Pada saat itu saya megirimkan email ke ABH Hannover, yang saya dapat dari website ini. Untuk kota selain hannover bisa kamu cari di Google dengan keyword Ausländerbehörde (kota yang dituju). Email yang saya kirim cukup simpel, seperti ini:

Sehr geehrte(r) Damen und Herren,

mein Name ist Felicia. Ich bin Absolventin des Studienkollegs und werde an der Uni Hannover studieren. Ich habe vor einem Monat ein Visum beantragt. Bis jetzt habe ich leider keine Rückmeldung. Vielleicht wissen Sie, ob mein Antrag Ihnen erreicht hat?

Ich warte auf Ihre Antwort. Vielen Dank für Ihre Aufmerksamkeit.

Mit freundlichen Grüßen,
Felicia

Hanya dalam selang waktu kurang dari 30 menit saya sudah mendapat jawaban dari ABH Hannover yang menanyakan data diri saya (Tanggal lahir, Kewarganegaraan, Kota yang akan dituju di Jerman). Setelah memberikan data ini email saya pun langsung disalurkan ke pihak yang berwenang untuk masalah visa. Beberapa menit kemudian, saya mendapat kejelasan tentang masalah visa saya.

Die deutsche Auslandsvertretung hat Ihren Antrag unter Verschweigefrist ab dem 20.06.13 angekündigt.

Das heißt, dass sie in eigener Zuständigkeit nach Ablauf von 3 Wochen und 2 Arbeitstagen über das Visum entscheiden wird, sofern wir die Verschweigefrist nicht unterbrechen. Die Frist ist von uns nicht unterbrochen worden.

Wir dürfen Sie daher bitten direkt mit der Auslandsvertretung in Kontakt zu treten, da wir in der Visaangelegenheit nicht weiter tätig werden.

Apa maksud dari Verschweigefrist?
Pertama kali membaca ini saya jujur merasa bingung apa yang dimaksud dengan Verschweigefrist dan Versweigefrist nicht unterbrechen.  Setelah melakukan sedikit research di internet, saya baru menemukan jawaban tentang ini. 
Dari sini saya sedikit lebih mengerti tentang proses pengajuan visa. Setelah kamu mengajukan di kedutaan Jerman di Jakarta, maka dokumen kamu akan dikirimkan ke pihak ABH kota yang dituju. Verschweigefrist ini bisa dikatakan sebagai 'period of silence'. Jadi jika selama Verschweigefrist ini pihak ABH di Jerman tidak merespon apa-apa (tidak mengajukan keberatan), maka ini dianggap bahwa pengajuan visa kamu disetujui. 
Dalam kasus saya, dari ABH Hannover mengatakan bahwa mereka tidak mengajukan keberatan selama Verschweigefrist 3 minggu dan 2 hari. Jadi masalah visa yang tidak kunjung keluar disebabkan oleh kedutaan Jerman. Mereka pun menyarankan agar saya menanyakan tentang hal ini ke kedutaan Jerman. 

Sekali lagi saya mengontak kedutaan Jerman, kali ini dengan email untuk memperjelas masalah saya. Saya lampirkan juga jawaban dari ABH Hannover. Akhirnya pihak kedutaan baru memberikan jawaban, bahwa visa saya dalam beberapa 2 hingga 3 hari akan dikirim. Beruntung, setelah 3 hari menunggu akhirnya visa saya bisa keluar juga.

Untuk setiap kota di Jerman saya sendiri kurang tahu apakah Verschweigefristnya sama atau beda, khususnya untuk kota-kota besar yang ramai seperti Berlin, yang menurut banyak orang bisa memakan waktu 2 hingga 3 bulan untuk pengerjaan visa. Namun jika memang sudah merasa menunggu lebih dari 1 bulan dan visa belum kunjung keluar, bisa juga mengontak ABH di kota yang akan dituju untuk menanyakan keadaannya.

 

Friday, July 5, 2013

Mendapatkan Bukti Finansial untuk Visa Studi

Salah satu syarat untuk pengajuan visa studi adalah melampirkan bukti finansial untuk membiayai studi kita selama di Jerman. Ini berupa surat bukti bahwa account pelajar kita di Deutsche Bank sudah diisi uang sebanyak minimal 8.040 Euro. Untuk petunjuk pembukaan account dengan Deutsche Bank klik link ini.

Untuk mendapatkan surat dari Deutsche Bank ini yang perlu dilakukan adalah:
  • Mentransfer uang sebanyak 8.040 Euro. Jumlahnya bisa lebih dari jumlah ini tapi pastinya tidak boleh kurang dari jumlah ini. Perlu diperhatikan bahwa proses transfer antar bank luar negeri biasanya dikenakan biaya administrasi dsb sehingga lebih baik menambahi sedikit jumlah uang yang akan ditransfer. 
  • Setelah mentransfer tulis email ke db.student@db.com yang isinya menyampaikan bahwa kamu sudah mentransfer uang. Contoh email saya seperti ini:
Subject: Bestätigung zur Beantragung des Visums

Sehr geehrte(r) Damen und Herren,

meine Daten:

(disini saya mengisi data-data sebagai berikut:)
(nama), geb. 01.01.01 (tanggal lahir)
Filialnummer
Kontonummer
Bankleitzahl
IBAN
Bank ID Code
(informasi ini bisa didapat dari bukti pembukaan rekening yang dikirimkan oleh Deutsche Bank)

ich habe die Geldsumme ... Euro für die Finanzierung meines Studiums in Deutschland überweisen. Ich brauche einen Nachweis / eine Bestätigung von Ihnen, um das Visum zu beantragen. Wann kann ich die Bestätigung erhalten?

Anbei schicke ich Ihnen den Zahlungsbeleg.

Sertakan juga scan dari bukti transfer kamu.
  • Sekitar 2 hari setelah saya melakukan transfer saya mendapatkan email dari Deutsche Bank, yang berisi bukti bahwa uang yang saya transfer sudah diterima. Bukti ini di print sebanyak 2 lembar dan dibawa untuk mengajukan visa.

Thursday, June 20, 2013

Prosedur Pembuatan Visa Studi

  • Membooking jadwal pembuatan visa. Membooking jadwal dilakukan secara online di sini. Perlu diingat bahwa khususnya untuk bulan Mei - Juli / November - Januari banyak sekali mahasiswa yang ingin mengajukan visa (mulai start kuliah Wintersemester Oktober sedangkan Sommersemester Maret) sehingga dianjurkan untuk mengajukan visa minimal 2-3 bulan sebelum keberangkatan / sebelum kuliah dimulai. (khusus untuk Berlin bahkan minimal 3 bulan sebelumnya)  Untuk itu disarankan untuk membooking appointment visa satu bulan sebelumnya. Maksudnya, misal ingin berangkat ke Jerman bulan Agustus untuk kuliah di bulan Oktober, maka mengajukan visa sekitar akhir Mei - Juni, tapi membooking appointment dari bulan Mei. Jika membuat appointment berdekatan dengan hari pengajuan maka dipastikan pada bulan-bulan seperti diatas semua jadwal sudah dibooking orang lain. 
  • Setelah membooking appointment maka kedutaan Jerman akan mengirimkan email yang berisi bukti appointment pembuatan visa. Print email ini dan tunjukkan kepada satpam kedutaan di hari H.
  • Membaca ketentuan-ketentuan pembuatan visa di sini
  • Mendownload formulir visa
  • Mengisi formulir selengkap-lengkapnya dalam bahasa Jerman. Petunjuk pengisian bisa dilihat di tulisan ini  
  • Mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan SEMUA 2 RANGKAP (per dokumen dikopi 2 kali). Daftar dokumen-dokumen yang harus disiapkan bisa dibaca di posting ini.
  • Datang ke kedutaan sesuai jam yang telah tertera di perjanjian.  Kedutaan Jerman letaknya di Bundaran HI, di seberang Hotel Indonesia / Grand Indonesia, persis di sebelah Hotel Mandarin. Bagi yang membawa mobil bisa parkir di Hotel Mandarin dan berjalan keluar ke kedutaan. Perhatian: Bawa barang seperlunya! (HP, dokumen-dokumen tidak perlu membawa tas besar-besar). Sedikit info buat yang mengajukan visa setelah jam makan siang, kedutaan Jerman tutup dari jam 12.00 hingga 13.00 untuk istirahat makan siang. Saya sendiri mengajukan visa tanggal 20 Juni 2013 pukul 13.00 dan akhirnya harus menunggu di luar kedutaan hingga kira-kira pukul 12.45 baru diperbolehkan masuk ke kedutaan.
  • Memberitahukan diri ke satpam kedutaan. Sebelum diperbolehkan masuk maka kamu akan diminta untuk menunjukkan paspor ke satpam. Data di paspor nantinya akan dicocokkan dengan data yang kamu masukkan saat membuat appointment visa (nama, tanggal lahir, nomor paspor). Jika cocok maka kamu baru boleh masuk.
  • Melewati pos pemeriksaan. Di pos pemeriksaan ini kamu diminta mematikan dan menyerahkan semua barang elektronik. Barang-barang kamu akan dimasukkan ke dalam loker di pos pemeriksaan dan kamu akan mendapat pas masuk serta kunci dari loker tersebut.
  • Mendatangi loket visa di lantai dua. Setelah melewati pos pemeriksaan maka langsung saja naik ke lantai dua (di sebelah tangga ada tulisan loket visa, lantai 2). Nantinya setelah kamu masuk ke ruangan untuk pengajuan visa akan ada satu petugas lagi yang akan menanyakan appointment kamu, jika memang sudah terdaftar kamu akan diarahkan ke loket untuk membuat visa. Pada saat saya mengajukan visa, saya diarahkan menuju loket 4 yang memang diperuntukkan untuk membuat residence permit. 
  • Menunggu panggilan. Di dekat loket kamu bisa menunggu di kursi-kursi yang tersedia. Nantinya petugas visa akan memanggil nama kamu dan kamu langsung membawa dokumen-dokumen yang diperlukan. Nah pengalaman saya dan beberapa teman yang juga membuat visa (di hari yang berbeda) ternyata berbeda-beda. Waktu itu saya sudah menyerahkan semua dokumen-dokumen yang diminta, tapi ternyata Ijazah, SKHUN, Rapor Kelas 3 beserta terjemahannya dikembalikan oleh petugas visa, dengan alasan jika sudah memiliki surat undangan (Zulassung) dan ijazah kelulusan Studienkolleg (FSP) maka tidak perlu lagi menyertakan Ijazah SMA. Namun beberapa teman saya juga ada yang Ijazah SMAnya tidak dikembalikan. Jika kamu tidak berdomisili di Jakarta, ada baiknya juga untuk menanyakan apa visa kamu bisa diambil di konsulat kehormatan di kota kamu. Petugas visa waktu itu kebetulan menanyakan saya apakah mau visanya diambil di konsulat di Surabaya, tapi dengan syarat saya harus meninggalkan paspor saya. 
  • Membayar biaya administrasi. Setelah dokumen-dokumen kamu diperiksa oleh petugas visa, maka kamu akan diminta membayar biaya administrasi sebesar 60 Euro, dibayar dalam rupiah sesuai dengan kurs yang ada. Jadi sekitar Rp 800.000,- tergantung kurs yang berlaku pada hari itu. 
  • Memasukkan sidik jari. Kamu akan diminta untuk memasukkan sidik jari, seperti layaknya pembuatan visa pada umumnya. Pastikan jari tidak kotor dan basah / berkeringat. Ada baiknya untuk membawa tisu / sapu tangan untuk mengantisipasi hal ini.
  • Memeriksa ulang formulir visa. Informasi yang sudah kamu tulis di formulir akan dimasukkan ke komputer dan di print. Print out ini nanti akan diberikan ke kamu, beserta dokumen-dokumen yang kamu serahkan, untuk sekali lagi diperiksa. Pada tahap ini bagian-bagian formulir yang kurang atau belum diisi juga akan diberitahu oleh petugas visa. Pada print out yang diberikan oleh kedutaan jika memang data-data yang diketik sudah benar kamu diminta menandatangani print out ini dan memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Setelah semua proses telah selesai, kamu akan diberi bukti pembayaran visa yang bisa kamu pakai untuk mengambil visa kamu saat jadi (Abholnachweis). Petugas visa yang melayani saya mengatakan bahwa proses visa akan memakan waktu sekitar 5-6 minggu, dan visa akan dikirim ke konsulat Surabaya jika sudah jadi.

P.P.S: Ohya, untuk masalah interview, saya sendiri nggak terlalu ditanya macam-macam, hanya tujuan pengajuan visanya apa, kapan selesai Studienkollegnya, dimana Studienkollegnya. Saya juga tidak disuruh mengisi Fragebogen tentang universitas, namun ada teman saya yang disuruh. Menurut saya ini tergantung dari petugas visanya juga.


Update: setelah agak was-was juga, akhirnya tanggal 24 Juli 2013 visa saya selesai, dan 2 hari kemudian dikirimkan ke konsulat kehormatan di Surabaya. Untuk yang tinggal di luar kota dimana ada konsulat kehormatan, bisa juga minta untuk dikirimkan ke konsulat, tapi syaratnya harus menitipkan paspor di kedutaan, dan waktu ambil visa saya diminta bayar biaya 20.000 untuk biaya pengiriman.

Nah, berdasarkan dari pengalaman saya, ada beberapa tips yang bisa saya berikan:
  • Bagi lulusan Studienkolleg: coba untuk menanyakan ke petugas visa apakah ijazah SMA dan terjemahannya perlu disertakan juga. Karena dalam kasus saya, petugas visa malah mengembalikan ijazah SMA, rapor kelas XII, dan SKHUN saya beserta terjemahannya dengan alasan ijazah Feststellungsprüfung dari Studienkolleg dan Zulassung dari Universitas sudah cukup. Jika memang boleh hanya dengan ijazah Studienkolleg, lumayan juga buat menghemat stok ijazah terutama terjemahan yang biayanya cukup mahal
  • Jika sudah 3-4 minggu lebih tidak mendapat kabar, coba kontak ABH yang bersangkutan. Lihat posting saya tentang ini di sini.
  • Bagi yang visanya dikirimkan ke konsulat kehormatan, jika merasa pada hari itu visa seharusnya sudah datang (ada info dari kedutaan di Jakarta bahwa visa akan sampai di konsulat pada tanggal itu), coba kontak konsulat kehormatan tersebut. Saya sendiri tidak dihubungi oleh konsulat padahal visa saya sudah sampai, dan saat mengontak konsulat baru diinfokan bahwa visa saya sudah jadi.
  • Untuk pemilihan appointment, sepertinya lebih baik memilih jam pagi, sebelum makan siang. Berdasarkan pengalaman teman saya yang jam appointmentnya siang namun datang kepagian (sebelum jam makan siang), dia akhirnya didahulukan oleh petugas loket. Sedangkan appointment saya jam 13:00, dimana saya datang jam 12:00 dan kedutaan sedang ditutup karena istirahat makan siang, maka akhirnya saya harus menunggu di luar kedutaan.

Thursday, June 6, 2013

Apa saja yang perlu dibawa untuk mengajukan visa studi?

Berikut beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan visa studi (menurut pengalaman saya yang lulusan SMA dan Studienkolleg). Perlu diperhatikan bahwa semuanya disertakan 2 RANGKAP

  1. Bukti appointment visa (email dari kedutaan).
  2. Formulir pengajuan visa. Cara pengisian formulir bisa dilihat di sini
  3. Surat pernyataan yang sudah diisi, bisa didownload di sini (halaman 5-8)
  4. Pasfoto 3,5 x 4,5 sesuai dengan ketentuan visa Eropa sebanyak 4 lembar. Ketentuan-ketentuan pembuatan Pasfoto. Pada umumnya seharusnya studio percetakan foto seperti Fuji Film sudah mengerti Pasfoto seperti apa yang dimaksud. Saya sendiri dulu tinggal bilang "Mau cetak pasfoto untuk ke Eropa" atau "Mau cetak pasfoto ukuran 3,5 x 4,5", mereka sudah tahu apa yang dimaksud. Tempat pencetakan pasfoto yang pernah saya kunjungi:
    • Surabaya: Gaya Indah Photo di Jalan Panjang Jiwo (perempatan Jemursari-Wonokromo-Panjang Jiwo). Tarifnya 5000 per lembar (cetak saja)
    • BSD, Tangerang: Surya Photo, di daerah ruko seberang BSD Plaza, dekat McD BSD. (alamat)
  5. Fotokopi paspor (bagian depan berisi identitas paspor dan tanda tangan, serta bagian belakang berisi alamat)
  6. Fotokopi Ijazah Studienkolleg, jika sudah lulus Studienkolleg. Jika mengajukan visa untuk Studienkolleg di Jerman, maka diganti dengan Ijazah kemampuan bahasa Jerman (Goethe Zertifikat / DSH / TestDAF) yang sudah dilegalisir oleh Kedutaan Jerman. Bisa juga menggunakan fotokopi dari legalisirnya (setelah dilegalisir oleh kedutaan, difotokopi depan dan belakang--halaman yg terdapat tanda legalisir / cap dari kedutaan--kemudian hasil fotokopi ini bisa dipakai untuk mengajukan visa, tidak perlu hasil legalisir asli kedutaan)-->Nah untuk ini tergantung dari petugas visanya. Waktu saya mengajukan visa ternyata petugas kedutaan tidak meminta fotokopi legalisir melainkan legalisir aslinya. Tapi beberapa teman saya hanya diminta fotokopi legalisir
  7. Fotokopi Ijazah SMA yang sudah dilegalisir oleh sekolah DAN DEPDIKNAS
  8. Fotokopi Rapor kelas 3 SMA yang sudah dilegalisir sekolah DAN DEPDIKNAS
  9. Fotokopi SKHUN SMA yang sudah dilegalisir sekolah DAN DEPDIKNAS
  10. Terjemahan dari Ijazah + Rapor + SKHUN 
  11. Surat penerimaan (Zulassung) dari perguruan tinggi Jerman / Studienkolleg / Sprachkurs. Jika bentuk fisik surat ini belum diterima lewat pos maka bisa menggunakan print out file digital dari surat ini.
  12. Bukti transfer 8040 Euro ke Deutsche Bank. Untuk petunjuk mendapatkannya bisa dilihat di link ini
  13. Lebenslauf (Daftar riwayat hidup yang sudah ditanda tangan)
  14. Motivationsschreiben (motivational Essay: mengapa ingin studi di Jerman, di universitas yang ingin dituju, dll.)
  15. Biaya administrasi visa sebesar 60 Euro (dibayar dalam rupiah sesuai kurs yang berlaku)
  16. Bolpoin (untuk mengisi bagian-bagian formulir yang kurang)
  17. Tissue / sapu tangan (untuk mengantisipasi jika jari kotor / basah saat pengambilan sidik jari)
  18. Jika yang mengajukan visa berusia dibawah 18 tahun maka harus menyertakan:
    • Fotokopi Akte kelahiran yang sudah dilegalisir oleh KANTOR CATATAN SIPIL
    • Terjemahan akte kelahiran
Perhatian: Untuk poin nomor 5-9, ini juga tergantung dari petugas visanya. Petugas visa yang melayani saya mengembalikan Ijazah saya beserta legalisirnya dengan alasan jika saya sudah memiliki Ijazah Studienkolleg dan surat penerimaan maka tidak perlu menggunakan Ijazah SMA. Tapi beberapa teman saya ada yang Ijazah SMAnya turut diminta.

Pengisian Formulir Visa Studi ke Jerman

Untuk membuat visa studi di Jerman syarat utamanya adalah mengisi formulir permohonan. Saya sendiri sempat bingung dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan yang ada di formulir ini. Berikut rincian pertanyaan yang menurut saya agak membingungkan dan perlu diperhatikan.

3. Penulisan tanggal lahir: DD.MM.YYYY (01.01.2013)

5. Staatsangehörigkeiten: Indonesien

11 Paß oder sonstige Reiseausweis:
          Genaue Bezeichnung: PASSPORT REPUBLIC OF INDONESIA
          Nr: (nomor passport)
          Gultig bis: (tanggal kadaluarsa paspor, mis: 1 jan 2018)
          ausgestellt von: CHIEF OF IMMIGRATION OFFICE, (nama kota tempat membuat paspor)
          ausgestellt am: (tanggal paspor mulai berlaku, mis: 1 jan 2013)

12 Rückkehrberechtigung: Dikosongi

13 Eingereist am: dikosongi

15 Tulis kota yang dituju sesuai di Zulassung (misal pakai Zulassung dari Hannover, tulis Hannover)

16 Zugezogen am: dikosongi

17 Wird…beibehalten? JA. und ggf. wo? (tulis alamat rumah)

18 Sollen...mit einreisen? NEIN (pilihan "Ja" hanya jika anggota keluarga kamu nantinya akan ikut tinggal di Jerman bersama kamu, bukan hanya mengantar)

19 dikosongi

20 Zweck des Aufenthalts: STUDIUM
     Arbeitgeber: kosong
     Name der Verwandten, der Studienanstalt…: Nama universitas yang akan dituju
     Deren Anschrift: Alamat universitas yang akan dituju
     Beabsichtige Erwerbstätigkeit: Kosong

21 Erlenter Beruf: kosong

22 Haben Sie…Arbeitsverwaltung? NEIN

23 Beabsichtige Dauer des Aufenthalts: vom (kira-kira mau ke Jerman tanggal berapa? Misal Agustus 2013 tulis 01.08.2013) bis ENDE DES STUDIUMS (kira-kira 4 tahun dari vom)

Catatan: Menurut petugas visa yang melayani saya, visa studi berlaku minimal 2 minggu sebelum tanggal Immatrikulation. Jadi misal Immatrikulation universitas kamu tanggal 15 September, maka visa kamu akan berlaku mulai 1 September.

24 Aus welchem Mitteln? FAMILIE / ELTERN

25 Sind Sie vorbestraft? Nein. yang lain kosong

26 Sind sie…verweigert worden? NEIN

27 Leiden Sie an Krankheiten? NEIN (Jika tidak). Besteht Krankenversicherungsschutz für die Bundesrepublik Deutschland? NOCH NICHT, WIRD ABER IN DEUTSCHLAND ABGESCHLOSSEN

Ich beantrage die Aufenthaltserlaubnis für 4 Jahre (jika pada poin 23 menulis 4 tahun)

Jetzige Anschrift:
         Ort: Kode Pos, Kota
         Nama Jalan (Alamat)

Memilih Universitas di Jerman

Sedini mungkin diusahakan untuk mencari informasi tentang jurusan yang ingin diambil, dan lebih baik lagi jika mencari informasi tentang universitas yang dituju.

Universitas mana yang menawarkan program jurusan yang saya inginkan?
Untuk mencari jurusan yang diinginkan, bisa mencari di http://www.studieren.de. Disini akan diperlihatkan universitas mana saja yang menawarkan jurusan yang diinginkan. Bisa juga melihat di website DAAD. Kebanyakan program Bachelor yang ada di Jerman hanya menawarkan program studi berbahasa Jerman. Sementara untuk program Master, pilihan International Program (bahasa Inggris) sangat banyak untuk dipilih. Setelah menemukan universitas yang cocok untuk program studi yang dipilih, ada baiknya untuk membuka website universitas tersebut dan mengecek lagi di bagian "Studienangebot", apakah jurusan yang ditawarkan benar-benar ada, karena bisa juga terjadi, bahwa jurusan yang diinginkan sudah tidak lagi ditawarkan di universitas tersebut. 

Universitas mana yang paling bagus di Jerman? Mana yang paling bagus untuk jurusan A?
Pada dasarnya di Jerman tidak diberlakukan ranking untuk universitas, karena universitas merupakan universitas negeri yang standardnya tentunya disamakan oleh pemerintah untuk seluruh Jerman. Namun memang ada beberapa universitas-universitas yang menonjol dalam bidang tertentu dan mendapatkan dukungan / bantuan dana lebih banyak dari pemerintah. Ini berbeda-beda untuk setiap jurusan. Beberapa universitas yang biasanya menjadi favorit mahasiswa antara lain (sejauh yang saya tahu):
  • Teknik/Sains: TU München, RWTH Aachen, Uni Stuttgart
  • Medizin / Kedokteran / Farmasi: Universität Heidelberg, Charité Berlin, Universität Freiburg, Uni Göttingen, Universität Tübingen, LMU München
  • Informatik: Karlsruhe Institute of Technology, TU München
  • Musik: Universität Würzburg
  • Ilmu Sosial / Ekonomi / Humanities: FU Berlin, Humboldt Universität zu Berlin, Universität zu Köln
Ada juga beberapa kumpulan universitas yang membentuk badan universitas elit (seperti Ivy League) antara lain TU9, 9 Universitas Teknik "terbaik" di Jerman (kata terbaik disini saya beri tanda kutip karena memang seperti yang saya tadi bilang, di Jerman rata-rata kualitas universitasnya tidak terlalu berbeda satu sama lain, dan selain itu ada juga universitas teknik yang menurut saya memiliki kualitas yang baik yang tidak tergabung di TU9 ini). Selain TU9, ada juga istilah "11 Eliteuniversitäten Deutschlands" atau 11 universitas elit di Jerman yang dipilih oleh Excelence Initiative, sebuah badan yang bekerja dibawah Departemen Pendidikan Jerman. Info selengkapnya di sini

Uni vs. FH, mana yang lebih baik?
Di Jerman, perguruan tinggi (Hochschule) terdiri dari 2 jenis, yaitu Universitas (Universität) dan University of Applied Science (Fachhochschule / FH). Istilah "Hochschule" sendiri lebih banyak digunakan untuk FH. Dua-duanya memberikan gelar yang sama dan setara, bedanya adalah universitas lebih mengedepankan teori, sedangkan FH lebih banyak ke arah praktek. Mana yang lebih baik? Sebenarnya tergantung dari minat masing-masing. Bila memang lebih suka praktek, bisa memilih FH. Sebaliknya jika bila lebih suka teori, bisa masuk ke Uni. 

Jika sudah menemukan universitas yang ingin dituju, bisa membuka website jurusan yang diinginkan di universitas tersebut untuk membaca tentang modul-modul yang ditawarkan dalam program studi tersebut serta cara-cara pendaftarannya. Lebih baik lagi jika mencoba untuk mengontak Studienberater (konsultan calon mahasiswa) atau International Office di universitas tersebut untuk mendapatkan informasi tentang cara pendaftaran, syarat-syarat yang diminta, dll. Kebanyakan konsultan di International Office ini bisa berbahasa Inggris.

Persiapan Bahasa Jerman

Berbeda dari universitas di Eropa yang lainnya, hampir semua universitas di Jerman hanya menawarkan program Bachelor dalam bahasa Jerman. Untuk itu kemampuan bahasa Jerman memang salah satu syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk siswa yang akan melanjutkan studi S1 di Jerman, paling ideal adalah mulai belajar bahasa Jerman sejak SMA kelas 10 atau kelas 11, supaya tidak terburu-buru dan persiapannya lebih matang. Beberapa alternatif belajar bahasa Jerman (yang saya tahu):
  • Goethe Zentrum Surabaya / Wisma Jerman Surabaya. Menawarkan paket les bahasa Jerman per level, dari A1 sampai C2. Pengalaman saya mengikuti kursus disini, satu kelas berisi sekitar 15-20 orang. Karena saya masih bersekolah, maka saya mulai ikut kursus A1 program ekstensif (2 kali seminggu, 1 kali pertemuan sekitar 2-2,5 jam). Pembayaran dilakukan setiap 3 bulan. Untuk informasi jadwal kursus dan harga bisa dilihat di sini . Alamat Wisma Jerman Surabaya di sini. Di Goethe saya hanya sempat les selama 6 bulan (hingga level A1).
  • Les Privat. Karena mengejar waktu (waktu itu saya baru mulai belajar bahasa Jerman awal kelas 12) dan merasa bahwa di Goethe Institut kemajuan saya terlalu lambat, maka saya pindah ke les privat di Surabaya, tepatnya di Berlin Course Centre (link facebook). Disini saya merasa lebih cocok karena satu kelas hanya berisi 4 orang, meskipun biayanya tentunya lebih mahal daripada di Goethe. Melalui les privat ini saya berhasil menyelesaikan level A2 dan B1 dalam waktu 7 bulan.
Seberapa tinggi kemampuan bahasa Jerman yang diperlukan?
Karena siswa lulusan SMA dari Indonesia (pemegang Ijazah SMA) dianggap belum setara tingkat pendidikannya dengan di Jerman, maka siswa dari Indonesia wajib mengikuti kelas persiapan masuk perguruan tinggi atau semacam foundation (Studienkolleg). Informasi selengkapnya tentang Studienkolleg bisa dilihat di posting tentang Studienkolleg.   

Sebelum masuk Studienkolleg siswa diharuskan sudah memiliki kemampuan dasar bahasa Jerman. Ini juga berbeda-beda, tapi minimal rata-rata Studienkolleg di Jerman meminta level B1. Untuk tingkat bahasa Jerman yang diminta silakan melihat informasi di website Studienkolleg yang akan dituju. Ada beberapa Studienkolleg (misal di Berlin) yang meminta B2, namun ada juga yang meminta A2 di daerah lain. Pada saat pendaftaran Studienkolleg siswa harus bisa membuktikan kemampuan bahasa Jerman dengan menunjukkan sertifikat ujian bahasa Jerman (Goethe Zertifikat atau sejenisnya)

Bagi siswa lulusan sekolah internasional dengan ijazah seperti IB, Cambridge, A Level, ada kalanya tidak perlu mengikuti Studienkolleg. Apakah ijazah kamu dianggap setara dengan ijazah Jerman (Abitur), bisa dilihat di Anabin. Disini akan tertera informasi, apakah Ijazah kamu memungkinkan untuk bisa langsung mendaftar universitas atau kamu harus mengikuti Studienkolleg dulu. 

Bagi kamu yang tidak perlu mengikuti Studienkolleg, maka tetap harus menyertakan sertifikat bukti kemampuan berbahasa Jerman untuk mendaftar universitas. Untuk masuk ke universitas beberapa sertifikat yang diakui antara lain DSH 2, TestDAF 4x4, Goethe Zertifikat C1, dll. Informasi selengkapnya bisa dilihat di website universitas masing-masing, karena ada beberapa jurusan juga yang meminta kemampuan bahasa DSH 3 atau Goethe Zertifikat C2.

Bagaimana untuk mendaftar ujian bahasa Jerman?
Di Indonesia tempat untuk mengikuti ujian bahasa Jerman adalah Goethe Institut. Saya sendiri mengikuti ujian A1 dan B1 di Goethe Zentrum / Wisma Jerman Surabaya sebelum masuk ke Studienkolleg. Selain A1 dan B1 juga ditawarkan ujian bahasa Jerman untuk setiap level. Ujian A1 dilaksanakan setiap bulan, sedangkan untuk ujian B1 ada jadwal khusus yang bisa ditanyakan sendiri ke pihak tempat ujian. Untuk pendaftarannya mudah, tinggal datang ke kantor Wisma Jerman Surabaya, mengisi formulir pendaftaran dan membawa uang pendaftaran. Nantinya pada hari H kamu tinggal daftar ulang sebelum ujian dimulai.

Apa saja yang diujikan?
Dari pengalaman saya mengikuti ujian A1 dan B1, ujian dibagi menjadi 5 bagian:
  • Hörverstehen (Listening). Sejauh yang saya ingat, kamu akan diperdengarkan sebuah percakapan / dialog sebanyak 2 kali, kemudian memilih jawaban yang benar dari sebuah pertanyaan multiple choice dan memilih jawaban benar/salah.
  • Leseverstehen (Reading). Untuk level B1, bagian pertama adalah memilih judul yang tepat untuk penggalan teks yang diberikan, lalu dilanjutkan dengan sebuah bacaan artikel yang cukup panjang kemudian kamu harus menyelesaikan soal multiple choice seputar artikel tersebut. Terakhir kamu harus memilih iklan yang sesuai dengan apa yang diminta di soal. Untuk level A1 mohon maaf saya agak lupa dengan soalnya karena sudah cukup lama mengikutinya.
  • Grammatik. Pertanyaan seputar grammar, biasanya mengisi titik-titik, melengkapi teks, dll.
  • Textproduktion (Writing). Untuk A1 dan B1 kurang lebih sama, kamu diberi sebuah situasi dimana kamu harus menulis / menjawab surat ke seseorang. Ada poin-poin yang harus dimasukkan ke dalam surat tersebut. Bedanya, untuk A1 suratnya sangat simpel, hanya beberapa kalimat. Sedangkan untuk B1 surat yang diminta harus mengandung sekitar 4-5 poin yang diminta di soal.
  • Sprechen (Speaking). Biasanya dilakukan beberapa jam setelahnya. Jadi setelah Textproduktion, biasanya akan ada waktu istirahat dimana penguji memeriksa hasil ujian kamu, lalu beberapa jam kemudian jika kamu lulus di ujian bagian pertama ini kamu bisa melanjutkan dengan ujian speaking. Pada ujian speaking ini umunya diawali dengan perkenalan diri (kamu memperkenalkan diri ke penguji dalam bahasa Jerman), setelah itu dilanjutkan dengan tanya jawab / dialog dengan partner (sesama peserta ujian) tentang tema yang ditentukan dan hanya diberi waktu persiapan beberapa menit.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...