Seperti yang sudah saya pernah tulis, calon siswa SMA dari Indonesia biasanya belum bisa langsung mendaftar ke universitas namun harus mengikuti program persiapan kuliah selama kurang lebih 9 bulan di Studienkolleg. Saya sendiri mengikuti Studienkolleg di Indonesia yang ditawarkan oleh Studienkolleg Hannover. Tempatnya di daerah BSD, Tangerang, Jakarta. Berikut beberapa informasi tentang Studienkolleg menurut pengalaman saya.
Jika ingin melanjutkan Studienkolleg di Jerman
Karena saya sendiri tidak mengikuti Studienkolleg di Jerman, maka saya hanya bisa memberikan sedikit informasi tentang hal ini. Untuk melanjutkan Studienkolleg di Jerman, kebanyakan universitas memiliki Studienkolleg tersendiri (mis: STK TU Berlin). Ada juga Studienkolleg yang merupakan gabungan dari beberapa universitas (STK FU/HU Berlin). Kebanyakan Studienkolleg ini tidak menerima pendaftaran dari calon mahasiswa secara langsung, melainkan melalui universitas yang akan dituju atau melalui badan perwakilan uni-assist e.V. Jadi misalnya jika ingin mendaftar Studienkolleg di Bonn, bisa mengirimkan aplikasi ke International Office / Immatrikulationsamt di Universität Bonn, yang nantinya akan disampaikan ke Studienkolleg Bonn. Contoh lainnya adalah dengan menggunakan uni-assist, misalnya untuk mendaftar di Studienkolleg TU Berlin. Untuk kasus ini berarti aplikasi harus dikirimkan ke uni-assist e.V. Nantinya uni-assist akan memproses dan memeriksa keaslian dokumen, dan akhirnya akan disampaikan ke Studienkolleg Berlin. Informasi selengkapnya bisa dilihat di website Studienkolleg yang akan dituju.
Studienkolleg Indonesia
Alternatif lain bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Jerman adalah Studienkolleg Indonesia. Studienkolleg ini adalah satu-satunya Studienkolleg yang berada di luar Jerman, dan bekerja sama dengan Leibniz Universität Hannover. Disini siswa akan dibimbing untuk mengikuti Feststellungsprüfung, ujian yang menjadi syarat untuk memasuki perguruan tinggi di Jerman untuk calon mahasiswa dari luar Jerman. Di Studienkolleg Indonesia kelas dibagi menjadi T Kurs (teknik), M Kurs (kedokteran), dan W Kurs (ekonomi). Berdasarkan pengalaman saya selama 9 bulan disini, ada sisi positif dan negatif dari mengikuti Studienkolleg disini.
PLUS
- Salah satu keuntungan dari mengikuti Studienkolleg Indonesia adalah murid STK Indonesia lebih gampang mendapat Zulassung (letter of acceptance) karena Studienkolleg Indonesia bekerja sama dengan Uni Hannover, sehingga setelah selesai FSP siswa dapat mendaftar Uni Hannover tanpa menggunakan Ijazah / Zeugnis yang keluarnya memang cukup lama. Zulassung ini juga tergolong cepat sekali dikeluarkan sehingga bisa langsung digunakan untuk mengajukan visa studi.
- Waktu yang diperlukan lebih sedikit, hanya 8-9 bulan, karena tidak terlalu banyak waktu libur. Saya sendiri mengikuti Studienkolleg dari 23 Agustus 2012 - 4 April 2013. Waktu liburan memang sangat minim, yaitu hanya saat hari libur nasional, libur Idul Fitri (sekitar 10 hari), dan libur Natal / Tahun Baru (10 hari).
- Dekat dengan keluarga. Karena Studienkollegnya masih berada di Indonesia, maka untuk bertemu dengan keluarga / pulang ke rumah masih bisa dilakukan cukup sering. Lain halnya jika mengikuti Studienkolleg di Jerman.
- Persyaratan masuk yang lebih mudah. Di Studienkolleg Indonesia ini jika nilai ujian B1 kamu 3 atau lebih, maka bisa langsung diterima tanpa harus mengikuti tes masuk. Lain halnya dengan di Jerman, dimana setiap pendaftar harus mengikuti Aufnahmeprüfung atau tes masuk.
MINUS
- Biaya. Studienkolleg di Jerman hampir tidak dikenakan biaya (sama halnya dengan universitas di Jerman) sedangkan program Studienkolleg Indonesia ini biayanya 60 juta rupiah untuk 9 bulan (1 semester 30 juta).
- Lingkungan yang "tidak Jerman". Karena masih berada di Indonesia, tentunya lingkungan kita juga lingkungan Indonesia sehingga kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Jerman tentunya masih belum terasah.
- Jenis kelas yang terbatas. Di Studienkolleg Indonesia, sama halnya dengan Studienkolleg Hannover, hanya ditawarkan 3 kelas, yaitu kelas M, T, dan W. Bagi peserta yang ingin mengambil jurusan misal design, Germanistik, psikologi, dll. tentunya tidak cocok untuk mengambil 3 kelas diatas.
Sekilas tentang pembagian kelas-kelas di Studienkolleg
Kelas di Studienkolleg dibagi menjadi 5, yaitu T Kurs, M Kurs, W Kurs, G Kurs, dan S Kurs sesuai jurusan yang ingin diambil. Berikut
link seputar pembagian kelas di Studienkolleg menurut jurusan yang diambil. Perlu diingat, pemilihan kelas ini harus dilakukan secara matang-matang dan sesuai dengan jurusan yang akan diambil, karena beberapa universitas hanya mengijinkan kamu mendaftar jurusan yang berhubungan dengan Kurs yang kamu ambil di Studienkolleg. Jadi misalnya, jika kamu ingin mengambil Medizin (Kedokteran), kamu harus mengambil kelas M. Jika kamu mengambil kelas T (untuk Teknik) maka tidak akan diijinkan untuk mendaftar fakultas kedokteran. Begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh,
link dari Studienkolleg München ini menerangkan jurusan-jurusan apa yang bisa diambil oleh masing-masing Kurs.
Apa saja yang dipelajari di Studienkolleg?
Pelajaran di Studienkolleg sebenarnya temanya sama dengan yang dipelajari di SMA, tapi bukan berarti Studienkolleg mengulang SMA. Memang materi / tema yang diajarkan sama, namun di Studienkolleg sendiri diajarkan sisi lain dari materi / tema tersebut. Menurut pengalaman saya di Studienkolleg, kita lebih sering mempelajari tentang mengapa dan bagaimana sementara di SMA sendiri lebih berfokus kepada menghafal dan memasukkan rumus. Sementara di Studienkolleg memang menghafal rumus penting, namun tidak terlalu diutamakan. Disini sangat diutamakan bagi siswa untuk bisa mengerti darimana datangnya rumus tersebut, menjelaskan proses terjadinya sesuatu. Saya sendiri masuk di T Kurs dan pelajaran yang dipelajari yaitu Bahasa Jerman, Matematika, Fisika, dan Kimia. Materinya memang sama dengan SMA, tapi lebih banyak pengetahuan yang saya dapat selain hanya rumus dan definisi. Untuk kelas M Kurs pelajarannya Bahasa Jerman, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.
Mana yang lebih baik, Studienkolleg di Indonesia atau Jerman?
Ini sangat tergantung ke diri kamu masing-masing, karena baik Studkol di Indo atau Jerman ada plus minusnya. Iya memang, di Indo selain mahal juga kurang suasana "Jerman" karena tidak harus bicara bahasa Jerman di kehidupan sehari-hari. Tapi di Jerman juga banyak sekali kasus-kasus mahasiswa yang molor masuk Studkol karena syarat tes masuk Studkol di Jerman yang cukup susah sehingga akhirnya harus menghabiskan waktu cukup lama untuk les bahasa, yang tentunya makin memakan biaya karena murid Sprachkurs belum bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas yang sama seperti Student. Selain itu jika kamu tidak bisa menjaga diri, bisa jadi akan terlalu terlena dengan fasilitas-fasilitas di Jerman seperti kemudahan traveling atau internet cepat yang membuat belajar menjadi kurang maksimal. Tapi wie gesagt, ini tergantung dari pribadi masing-masing dan saya sendiri berpendapat, kesuksesan di Universitas tidak sepenuhnya ditentukan oleh asal Studkol melainkan niat dan kerja keras :)